

Horas ! Aku kembali ke rumah di suhu yang panas.
Seratus delapan puluh derajat berbeda di atas kertas.
Banyak orang memakai jas,
menutupi sifat culas.
Hidup dalam sandiwara,
lantas? Siapa yang pantas?
Tak satu pun dari mereka peduli perut kami.
Tak satupun dari mereka coba tepati janji.
Tak satupun dari mereka mendengar dengan hati.
Kami lelah seperti kambing yang diikat tali !!!!
Nyala lah lentera...
Bangunkan semua jiwa...
Semua akan mati jika menunggu.
Kita hanya korban dalam belenggu.
Hidup dalam harap doa terpanjat.
Tak terisi lambung, manusia akan jahat.
Semua akan mati jika menunggu.
Kita hanya korban dalam belenggu.
Hidup dalam harap doa terpanjat.
Tak terisi lambung, manusia akan jahat.
Birokrasi tipu tipu, reformasi cuma lagu.
Inovasi ragu, toleransi masih bahan baku.
Uang kami masuk saku, dinikmati para babu.
Nadi kami bergemuruh, tunggu kami punya tinju.
Mereka bertopeng, sosialis demokrasi.
Peran kita gareng, jalan ikut intuisi.
Sampai luka jadi koreng, rumah takkan pernah bersih.
Kuali nasi goreng pasti lebih indah dari puisi !
Nyala lah lentera...
Bangunkan semua jiwa...
Semua akan mati jika menunggu.
Kita hanya korban dalam belenggu.
Hidup dalam harap doa terpanjat.
Tak terisi lambung, manusia akan jahat.
Semua akan mati jika menunggu.
Kita hanya korban dalam belenggu.
Hidup dalam harap doa terpanjat.
Tak terisi lambung, manusia akan jahat.
Semua akan mati jika menunggu.
Kita hanya korban dalam belenggu.
Hidup dalam harap doa terpanjat.
Tak terisi lambung, manusia akan jahat.
Semua akan mati jika menunggu.
Kita hanya korban dalam belenggu.
Hidup dalam harap doa terpanjat.
Tak terisi lambung, manusia akan jahat.
Aa-aa aa-aa
Hidup dalam harap doa terpanjat.
Tak terisi lambung, manusia akan jahat.
Semua akan mati jika menunggu.
Kita hanya korban dalam belenggu.
Hidup dalam harap doa terpanjat.
Tak terisi lambung, manusia akan jahat.
© 2024 Pro-M (PT Profesional Music)