The Story
ABOUT

Who We Are
Methosa adalah band Indonesia yang beranggotakan Mansen Munthe (Vokal), Dami Mahardiwana (Gitar), Kelana Halim (Bass), dan Raden Agung (Kibor). Methosa ingin menjadi advokat, pembawa pesan kesetaraan, dan menciptakan kesadaran akan keresahan sosial masyarakat melalui media musik dan lagu.
Kami ingin mengangkat berbagai isu ke permukaan melalui seni musik, memastikan bahwa isu-isu tersebut tidak terkurung di bawah tanah, melainkan didengar oleh semua orang. Musik Methosa menggabungkan berbagai elemen budaya Indonesia, memadukan beragam aspek budaya, dan menghindari kungkungan satu genre.
Methosa menghasilkan suara yang unik, ditandai dengan lirik yang puitis dan pesan sosial kritis yang memikat. Dengan album perdana "KAUSA NUSANTARA," kami bercita-cita untuk memulai sebuah gerakan yang memperkenalkan suara baru di industri musik Indonesia.
Karya kami dirancang untuk semua kalangan tanpa memandang usia, ras, atau latar belakang, mendorong setiap individu untuk tetap berani dan kritis. Kami menganjurkan setiap orang untuk mengekspresikan diri tanpa rasa takut dan membela kebenaran.
The Band
MEMBERS

Lead Vocals & Founder
Mansen Munthe
The visionary behind Methosa. Starting from an underground rap background in Medan, Mansen transformed his poetic resistance into a powerful band format to voice Indonesia's social realities.

Bass
Kelana Halim
Kelana provides the rhythmic pulse that underpins Methosa's sonic landscape, blending deep grooves with the band's intense lyrical themes.

Synthesizer
Raden Agung
The architect of Methosa's atmospheric textures, Raden integrates modern electronic layers into the band's raw, socially-conscious sound.

Guitar
Dami
Dami's guitar work is the sharp edge of Methosa's music, delivering the riffs and melodies that drive their narratives of social critique.
The Journey
TIMELINE
Methosa is formed in Jakarta during the COVID-19 pandemic, evolving from Mansen Munthe's underground rap roots into a structured band.
Focused on creating songs that tackle social issues like equality, poverty, and corruption, intentionally avoiding romantic themes.
Signed with label Pro-M, marking a new chapter in their musical journey and expanding their reach to a wider audience.
Released the breakthrough debut album 'Kausa Nusantara', a collection of 11 tracks exploring the 'causes' of social friction in Indonesia.
Reaching over 160K monthly listeners on Spotify with powerful singles like 'Adu Domba' and 'Pulanglah', cementing their place as Indonesia's social conscience in music.